Senin, 02 November 2009

belajar bahasa Arab memang mudah! caranya...???

yupz.... untuk mempelajari bahasa Arab tidaklah sesulit yang selama ini kita bayangkan. ungkapan ini tidaklah mengada-ada. banyak orang bilang bahwa jika kita pingin menguasai bahasa Arab, akan memerlukan waktu yang sangat lama

bersambung

intinya adalah kerahkan segala potensi yang ada dalam mempelajari bahasa akhirat ini, baik hati, pendengaran, penglihatan, tangan harus kita optimalkan dalam mempelajarinya yakin dech...kamu-kamu pasti bisa

Bisnis Surat Kabar di AS Kian Terpuruk

Tampaknya,sebentar lagi banyak perusahaan percetakan surat kabar di Indonesia yang akan gulung tikar. Atau paling tidak, peminat mereka akan berkurang. karena, bisnis ini telah mengalami krisis yang sedemikian rupa yang menyebabkan perkembangan bisnis terhambat atau bahkan mandeg. pernyataan ini tidak ngawur, di AS telah tampak gejala ini dan kelihatannya akan terus merembet ke negara lainnya. untuk lebih jelasnya, baa saja dengan seksama berita dibawah ini yang saya kutip dari detik.com daripada kau-kamu harus buka sitenya mending baca saja...oke.


Anwar Khumaini - detikNews

Foto: ilustrasi
Washington - Perusahaan jaringan media besar di Amerika Serikat, Freedom Communications, mengumumkan akan menutup salah satu surat kabar yang mereka miliki, The East Valley Tribune yang terbit di Arizona. Penyebabnya: krisis di industri surat kabar.

The East Valley Tribune, koran yang mempekerjakan lebih dari 140 karyawan akan naik cetak terakhir pada 31 Desember 2009 mendatang. Edisi website-nya juga akan ditutup.

The East Valley Tribune yang terbit tiga kali dalam seminggu adalah koran kedua di Arizona yang akan tutup sepanjang tahun 2009 ini. The Gannett, sebelumnya telah gulung tikar pada Mei lalu.

"Sayang, kita tidak bisa mengelola dengan baik East Valley Tribune," kata Redaktur Eksekutif East Valley Tribune, Burl Osborne seperti dilansir AFP, Selasa (3/11/2009).

"Sehingga, dampaknya kita mengalami kesulitan untuk meneruskan bisnis ini dan hingga akhirnya terpaksa harus berhenti operasi," sesalnya.

Dua media yang juga gulung tikar baru-baru ini di AS adalah Rocky Mountain News dan Seattle Post yang telah berhenti cetak dan cuma terbit edisi online.

Christian Science Monitor, juga telah gulung tikar tahun ini dan cuma terbit edisi online setelah cetak selama kuranglebih 100 tahun.

Freedom Communications Inc adalah perusahaan jaringan media besar di AS yang memiliki The Orange County Register di California selatan, dan Media General Inc. Freedom juga menerbitkan Richmond Times- Dispatch di Virginia. Krisis industri surat kabar di AS akhirnya juga membuat perusahaan media raksasa ini kena getahnya. (anw/van)


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Minggu, 01 November 2009

download sofware Alarm

sehabis ikut kajian rutin ba'da shubuh di mushola sakinah, ndak tahu kenpa aku, pingin sekali untuk buka blog. tapi ya seperti biasa, begitu masuk account aku langnsung bingung mau post apa ya???
kemudian aku teringat bahwa setiap hari senin kami ada acara apel pagi yang dimulai pikul 06.30. dan tiba-tiba saja, aku mengingat kejadian yang membuatku selalu terlambt
akhirnya kudownload alarm biar gak telat terus ..hhhhhh

link http://www.ornj.net/citrus/
http://www.tarsoft.com/
http://www.freedownloadscenter.com/Search/alarm.html

Dunia Ini

Bagian Dunia PDF Cetak E-mail

www.almanhaj.or.id

Oleh
Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim

Sebagian Salaf berkata, “Wahai manusia, engkau membutuhkan bagian dunia, tetapi terhadap akhirat engkau lebih membutuhkannya. Jika engkau memulainya dengan dunia, maka engkau telah mengabaikan akhirat, sedangkan duniamu ada dalam titik bahaya. Dan jika engkau memulainya dengan akhirat, maka engkau memperoleh duniamu, karena itu lakukanlah dengan baik.”[1]

Bagaimana seseorang dapat menikmati kehidupan sedangkan dia tahu
bahwa Ilah semua makhluk akan bertanya kepadanya.
Dia akan menyiksa karena kezhaliman seorang hamba,
dan akan membalasnya dengan pahala karena kebaikan yang ia lakukan."[2]

Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah, beliau berkata, “Amma ba'du: Dunia adalah sebuah perjalanan, bukan tempat menetap. Allah menurunkan Adam ke dunia sebagai balasan atas apa yang dia lakukan, maka berhati-hatilah wahai Amirul Mukminin, karena sesungguhnya bekal dunia adalah dengan meninggalkannya dan kekayaannya adalah kefakirannya. Setiap saat ada yang terbunuh di dalamnya, terhinalah orang yang memuliakannya, dan fakirlah orang yang mengumpulkannya. Ia bagaikan racun mematikan yang diminum oleh orang yang tidak mengetahuinya, maka jadilah engkau seperti orang yang sedang mengobati luka, dia merasakan demam dalam waktu yang singkat karena merasa takut akan sesuatu yang menyakitkan dalam waktu yang lama dan bersabarlah menelan obat karena takut akan musibah yang berkepanjangan.

Berhati-hatilah terhadap alam yang menipu dan penuh dengan hayalan ini, sebuah alam yang dihiasi dengan tipuan, dilukiskan dengan sebuah angan-angan sehingga semua materi duniawi ini menjadi mulia bagaikan seorang pengantin yang cantik menawan. Semua mata dan hati memandang kepadanya dan jiwa pun merasakan kerinduan yang mendalam kepadanya, akan tetapi dia adalah seorang pembunuh yang membunuh suaminya.

Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil pelajaran atas sesuatu yang telah berlalu darinya dan tidak ada seorang pun yang merasa takut atas apa yang menimpa orang sebelumnya. Tidak ada seorang pun yang mengenal Allah ketika hal itu disebutkan kepadanya sehingga dia mengingat-Nya. Orang yang rindu akan dunia dengan mendapatkan kebutuhannya sehingga dia menjadi lupa dan lalai, dia disibukkan dengannya sehingga hampir saja kedua kakinya terpeleset, yang berakhir kepada sebuah penyesalan dan kerugian yang sangat besar. Dia keluar tanpa membawa bekal, lalu mempersembahkan sesuatu tanpa alas.

Berhati-hatilah wahai Amirul Mukminin! Jadilah engkau sebagai orang yang paling tertawan di dalamnya. Berhati-hatilah! Karena orang yang mendapatkan dunia, setiap kali dia menginginkan sebuah kesenangan, maka hanya sesuatu yang mereka bencilah yang didapatkan, kemegahan mengantarkannya kepada sebuah bencana, keabadian yang mereka harapkan hanyalah sebuah bayangan semu, kebahagiaan mereka teracuni oleh kesedihan, sesuatu yang pergi tidak akan bisa kembali, dan dia pun tidak akan tahu apa yang akan dia dapatkan. Angan-angannya adalah kebohongan, harapannya adalah kebathilan, kejernihannya adalah kekeruhan, kehidupannya adalah kesengsaraan, dan semua manusia hidup di dunia dalam keadaan yang membahayakan.

Nabimu, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditawarkan kunci dan gudang harta dunia, akan tetapi beliau menolaknya, dia tidak mau mencintai sesuatu yang dibenci oleh Penciptanya atau memuliakan sesuatu yang dihinakan oleh Malik (Raja)nya. Dunia dihamparkan kepada orang-orang shalih sebagai cobaan bagi mereka dan dibentangkan kepada musuh-musuh Allah sebagai tipuan. Diriwayatkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Musa Alaihissalam, ‘Jika engkau melihat kekayaan yang memihak, maka katakanlah, ‘Ini adalah sebuah dosa yang disegerakan,’ dan jika engkau melihat sebuah kefakiran, maka katakanlah, ‘Selamat datang syi’ar orang yang shalih.’”[3]

Saudaraku tercinta…
Seandainya engkau adalah pemimpin suatu kaum yang menuju,
duniamu yang penuh dengan kebohongan yang engkau ukir.
Niscaya aku akan mengatakan bahwa itu adalah se-buah bencana, tumbuhannya adalah kesengsaraan,
sedangkan airnya yang tawar adalah racun yang menjalar bagi seseorang.[4]

Saudaraku, dunia melipat dihadapamu sedangkan matahari akhirat sudah datang menghadap kepadamu, tetapi bagaimana keadaanmu sekarang ini?

Dan bagaimana engkau melihat masalah ini?
Marilah kita lihat bagaimana keadaan Salman Radhiyallahu 'anhu menjelang wafatnya, ketika itu beliau menangis, lalu ditanyakan kepadanya, “Mengapa engkau menangis, padahal engkau adalah Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?” Lalu beliau menjawab, “Aku sama sekali tidak menangis karena menyesal akan dunia atau karena cinta akan dunia, aku menangis karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengikat janji dengan kami agar kehidupan kami hendaklah seperti seseorang yang ada dalam perjalanan, tetapi kami meninggalkannya.” Lalu diperlihatkan kepadanya harta yang ia tinggalkan dan ternyata sebanyak dua puluh dirham lebih atau tiga puluh dirham lebih.[5]

Dunia adalah fatamorgana yang terus memanjang dan merupakan malam yang gelap… pencari dunia bagaikan orang yang meminum air lautan, semakin banyak dia meminumnya, maka akan semakin haus.[6]

Dunia itu tidak memiliki batas dan tidak memiliki akhir, kecuali dengan sikap qana’ah dan ridha terhadap apa yang telah ditentukan oleh Allah Subahanhu wa Ta'ala dengan memanfaatkan siang dan malam hanya untuk taat kepada Allah Jalla wa’ala.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Ahli dunia keluar dari dunia akan tetapi mereka belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” Beliau ditanya, ‘Apakah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mengenal Allah Ta’ala.’” [7]

Wahai saudaraku, lihatlah keadaan orang-orang shalih ketika sakaratul maut, kalian akan melihat sebuah keindahan dan kesejukan dalam jiwa-jiwa yang tenang, dan lihat pula keadaan yang jauh berbeda dengannya pada jiwa-jiwa orang yang memakan barang haram, berjalan di belakang materi duniawi beserta gemerlapnya.

Seorang hamba hanya bersedih sedang Rabb-lah Yang menentukan,
zaman selalu berputar dan rizki dibagikan.

Semua kebaikan ada dalam pilihan Sang Pencipta,
sedangkan pilihan selain-Nya hanyalah celaan.

Abud Darda’ Radhiyallahu 'anhu berkata, “Seandainya bukan karena tiga hal, niscaya aku berharap untuk berada di dalam bumi, bukan di atasnya. Seandainya bukan karena saudara-saudara yang datang kepadaku untuk memilih kata-kata yang indah sebagaimana buah matang yang dipilih dan dipetik atau karena menjadikan wajahku berdebu karena sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atau karena berjuang di jalan-Nya.”[8]

Inilah cinta yang jujur di jalan Allah dan inilah sikap yang tepat dalam menggunakan waktu. Demi Allah, itulah harapan yang baik dan indah.

Wahib bin al-Ward rahimahullah berkata, “Zuhud terhadap dunia adalah sikapmu yang tidak merasa putus asa terhadap orang lain karena sesuatu yang tidak engkau dapatkan dan engkau tidak gembira dengan apa-apa yang engkau dapatkan dari dunia.”[9]

[Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footnotes
[1]. Fadhaa-iludz Dzikr, hal. 19, karya Ibnul Jauzi.
[2]. Syarhush Shuduur, hal. 295.
[3]. Iddatush Shaabiriin, hal. 331.
[4]. Mawaariduzh Zham-aan (I/640).
[5]. Adabud Dun-yaa wad Diin, hal. 119.
[6]. As-Siyar (V/263).
[7]. Madaarijus Saalikiin, hal. 233.
[8]. Az-Zuhd, hal. 198.
[9]. Hilyatul Auliyaa’ (VIII/140).


http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=639&Itemid=1